Menanam Bawah Merah Menjadi Solusi untuk Petani Menghadapi Hama Tikus Supaya Tetap Produktif
Saat ini, Petani desa Karangaanyar sedang berjuang melawan hama tikus. Padi baru semai habis dipotong, jagung muda roboh, umbi-umbian dibongkar, bahkan tebupun tidak luput dari sasaran ganassnya tikus. Kerugiannya tidak main-main: tenaga, pupuk, dan waktu terbuang, sementara saat ini tanah banyak menganggur. Sebagai petani tentu kita memikir otak dan tidak menyerah bagaimana supaya tetap produktif, salah satu solusi bagi petani yaitu perlu strategi “putar haluan” agar tanah tetap produktif meski hama tikus sedang tinggi.
Salah satu alternatif yang layak dicoba adalah beralih sementara ke bawang merah.
1. Mengapa Bawang Merah Tahan Terhadap Tikus?
Tikus memang omnivora, tapi ada tanaman yang tidak disukainya. Bawang merah termasuk salah satunya. Aroma menyengat dari senyawa sulfur dalam daun dan umbi bawang tidak disukai tikus. Mereka cenderung menghindari lahan bawang dibanding padi atau jagung.
Ini bukan berarti bawang merah 100% aman, tapi tingkat serangannya jauh lebih rendah. Petani di beberapa daerah sentra sudah membuktikan: saat wabah tikus merajalela di sawah padi, hamparan bawang merah tetap bisa panen normal.
2. Keunggulan Lain Bawang Merah Saat Musim Wabah
Selain “kebal” tikus, bawang merah punya beberapa keunggulan yang membuatnya jadi solusi darurat:
Siklus Pendek: Bawang merah varietas unggul seperti Bima, Tajuk, atau Super Philips hanya butuh 60-70 hari dari tanam sampai panen. Artinya, saat wabah tikus diprediksi 3-4 bulan, petani masih bisa mengejar 1 siklus tanam bawang dan dapat pemasukan sebelum kembali ke komoditas utama.
Nilai Jual Tinggi: Harga bawang merah fluktuatif, tapi saat pasokan nasional turun akibat gagal panen padi/jagung, harga bawang justru naik. Satu petak kecil bawang bisa memberi hasil ekonomi yang setara atau bahkan lebih dari satu petak padi yang habis dimakan tikus.
Mengganggu Siklus Hidup Tikus: Mengganti tanaman inang tikus seperti padi dengan bawang memutus rantai makanan mereka di area itu. Saat tidak ada sumber makan favorit, populasi tikus akan terdorong pindah atau menurun secara alami.
3. Cara Praktis Mengalihfungsikan Lahan Saat Wabah
Beralih ke bawang merah tidak perlu menunggu lahan besar. Ini langkah awalnya:
1. Olah Tanah & Bedengan: Bawang butuh tanah gembur dan drainase bagus. Buat bedengan lebar 1-1,2 meter agar air tidak menggenang. Tikus juga kurang suka bedengan tinggi yang terbuka.
2. Gunakan Benih/Bibit Berkualitas: Pakai umbi bibit sehat, ukuran sedang. Umbi besar untuk konsumsi, umbi sedang untuk bibit. Rendam fungisida ringan sebelum tanam untuk cegah penyakit.
3. Jarak Tanam Rapat: Pola tanam 20x15 cm atau 15x15 cm sudah cukup. Satu hektar butuh sekitar 1-1,2 ton bibit. Untuk skala pekarangan, 100 m² cukup dengan 100-120 kg bibit.
4. Pengendalian Terpadu: Meski tahan tikus, tetap pasang perangkap, gropyokan, dan jaga kebersihan gulma di pematang. Gulma tinggi justru jadi tempat sembunyi tikus.
5. Pasarkan Bersama: BUMDes atau kelompok tani bisa jadi penampung agar harga jual petani tidak ditekan tengkulak.
4. Bukan Mengganti, Tapi Menyelamatkan
Penting digarisbawahi: bawang merah di sini bukan untuk menggantikan padi atau jagung selamanya. Ini strategi “jembatan” saat wabah tikus sedang puncak. Setelah populasi tikus turun dan sanitasi lahan membaik, petani bisa kembali ke komoditas utama dengan kondisi tanah yang tetap subur karena terus diolah.
Membiarkan lahan tidur justru mengundang gulma, penyakit, dan tanah mengeras. Mengisi masa wabah dengan bawang merah artinya tanah tetap digarap, pupuk organik masuk ke tanah, dan dompet petani tetap berputar.
Wabah tikus memang tidak bisa dihilangkan 100%, tapi dampaknya bisa kita minimalkan dengan cerdas memilih tanaman. Saat tikus menyerang padi, biarkan bawang merah yang “melawan”. Tanah tetap produktif, petani tetap punya penghasilan, dan ketahanan pangan desa tetap terjaga. ~imwid